Pesan Pemimpin Agung Revolusi dalam Rangka Pekan Pertahanan Suci dan Peringatan Syahidnya Sayyid Hassan Nasrallah
Ini adalah terjemahan dari teks asli berbahasa Persia. Teks asli dalam bahasa Persia
بسمالله الرّحمن الرّحیم
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
وَ لَقَدْ اَرسَلنْا موسی بِایاتِنا اَنْ اَخرِجْ قَومَکَ مِنَ الظُّلُماتِ اِلی النّورِ وَ ذَکِّرْهُم بِاَیّامِ الله
Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), "Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (QS. Ibrahim: 5)
Hari-hari awal bulan Mehr mengingatkan kita pada hari-hari Allah dan fenomena agung serta abadi berupa pertahanan delapan tahun yang penuh pengorbanan dari bangsa Iran dalam perang paksaan pertama. Pada hari-hari itu, pancaran hangat mentari Revolusi di seluruh hamparan tanah Iran menebarkan rasa yang menyenangkan berupa solidaritas nasional dan kesetiaan pada mazhab dan ajaran Islam revolusioner, yang karenanya es dominasi dan kolonialisme lama dan baru sedang mencair. Pada hari-hari itu, sebagian rakyat Iran masih mengingat kenangan dua puluh sekian tahun sebelumnya tentang niat jahat para penjajah serta peristiwa-peristiwa terkait nasionalisasi industri minyak dan kudeta Amerika. Sebagian lainnya telah mendengar beritanya, dan banyak di antara mereka telah merasakan dengan baik kenyataan tentang apa saja yang telah ditimpakan oleh dominasi asing atas urusan-urusan negeri kita. Adapun hari-hari sebelumnya adalah hari-hari yang kelam dan gelap, ketika para duta besar negara-negara arogan menyampaikan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan kepada raja negeri ini, dan ia pun, dengan suka atau tidak suka, melaksanakannya, hingga Revolusi agung bangsa Iran di bawah pimpinan Imam Khomeini menghancurkan tatanan itu. Hari-hari kelam itu, berkat Revolusi ini, berujung pada hari-hari penuh cahaya berdirinya Republik Islam Iran. Hal ini sangat berat bagi para penguasa dominan yang telah mengarahkan pandangan tamak pada kekayaan negeri ini dan selama bertahun-tahun, demi menguasainya, telah melakukan berbagai keburukan terhadap rakyatnya. Oleh karena itu, sejak saat itu mereka mengerahkan seluruh perhatian dan upaya mereka untuk membalikkan arus sungai deras bangsa yang revolusioner ke arah sebelumnya, dan perang paksaan pertama adalah tindakan terpenting mereka pada dekade pertama kehidupan Republik Islam yang penuh berkah.
Dari tengah api perang yang dinyalakan oleh Partai Baath yang anti-rakyat dengan khayalan perang beberapa hari dan meraih kemenangan dengan mudah itu, sistem Islam bangkit laksana burung phoenix, lebih tegap dan lebih kuat dari sebelumnya, dengan suara yang lebih lantang dan terbang lebih tinggi dari sebelumnya; dan hal ini menjadi sifat yang terus-menerus dari sistem ini dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya yang direkayasa musuh.
Hari-hari ketika musuh bangsa ini telah menempatkan antek-anteknya untuk menguasai mereka dan menerapkan bentuk baru kolonialisme, berkat Revolusi dan dikibarkannya panji Islam dan jihad dalam kancah perang paksaan, berubah menjadi hari-hari penuh kebanggaan yang hingga kini, setelah 38 tahun berlalu sejak berakhirnya, dari pengamatan atas setiap bagian peristiwanya dan kisah-kisah jujur dari para penyintasnya, tampak teladan-teladan yang masing-masing mengajarkan ibadah, keberanian, perlawanan, akhlak, dan kemanusiaan, laksana bintang-bintang gemerlap di puncak sejarah negeri kita.
Hari-hari ketika, pada awal serangan para pengekor sistem dominasi, negeri kita mewarisi tangan hampa dari rezim thaghut untuk mempertahankan diri dari banyak ancaman, berkat penegakan kebenaran dan pertolongan Ilahi, kini telah sampai pada hari-hari ketika para penguasa dominan yang agresor itu sendiri, bukan para pengekornya, mencari tempat berlindung dari serangan para pejuang Islam dan menengadahkan tangan memohon penghentian perang.
Hari-hari yang mereka ingin kembalikan negeri kita kepadanya adalah hari-hari yang penuh keterbelakangan, kehinaan, ketergantungan, dan nama buruk Iran di dunia Islam; sedangkan hari-hari yang kita jalani ini penuh dengan kemajuan, kemuliaan, kemandirian, dan tingkat kehormatan tertinggi di dunia Islam, bahkan di seluruh dunia. Hari ini sebagian orang memandang kita sebagai negara adidaya keempat di dunia. Tentu saja mereka mengatakan demikian berdasarkan perhitungan duniawi; namun perhitungan Ilahi memandang negara yang menganggap dirinya milik Itrah yang suci (salawat dan salam Allah atas mereka semua), yang sebagian besar rakyatnya mencintai para pribadi mulia itu, dan yang tidak gentar dalam menegakkan kebenaran, sebagai kekuatan pertama di dunia.
Pada hari-hari itu, dua laut di selatan Iran menjadi arena bagi pasukan musuh, tetapi pada hari-hari ini, karena pukulan-pukulan menyakitkan yang mereka terima dari para pejuang pemberani dan para penjaga Selat Hormuz, mereka tidak berani datang lebih dekat dari Laut Arab, dan setiap kali mereka mengambil risiko ini, mereka mencelakakan diri sendiri; dan tidak lama lagi Laut Arab pun akan mengosongkan dirinya dari mereka.
Ada hari-hari ketika para penguasa dominan, dengan operasi psikologis dan menciptakan suasana teror, mengosongkan jalan-jalan ibu kota dan melancarkan kudeta terhadap semangat kemerdekaan bangsa ini, lalu selama 25 tahun setelahnya menjarah kekayaan negeri ini; namun pada hari-hari ini, sudah tujuh bulan saudara-saudara sebangsa kita menghiasi lapangan dan jalan-jalan di seluruh negeri dengan kehadiran mereka yang bertanggung jawab dan penuh semangat, agar hati para pejuang Islam tetap hangat dan musuh tenggelam dalam ketakutan. Sebagaimana lebih dari 30 juta orang Iran telah menyatakan kesiapan mereka untuk mengorbankan jiwa, dan ketika diadakan pengumuman ulang kehadiran mereka untuk semacam pengorganisasian, hanya dalam 100 menit pertama, lebih dari lima ratus ribu orang telah memenuhi kapasitas yang diminta. Saat ini di seluruh Iran Islami, yang dihiasi kehadiran orang-orang Iran dari beragam suku, terdapat berbagai pernyataan kesiapan, khususnya kesiapan bersenjata, untuk membangun medan laga yang menganugerahkan nama harum bagi mereka dan aib bagi musuh mereka.
Ada hari-hari ketika unsur keberanian rakyat negeri ini dikenal melalui kaum laki-lakinya; namun kini kita berada di hari-hari ketika kaum perempuan di sebagian arena kehadiran yang berani mendahului kaum laki-laki.
Ada hari-hari ketika musuh berusaha terus-menerus melemahkan basis sosial sistem, tetapi pada hari-hari ini berbagai lapisan masyarakat, dengan perbedaan-perbedaan yang nyata, bersikukuh mempertahankan posisi-posisi mereka yang benar, termasuk mempertahankan Selat Hormuz yang penuh kebaikan dan berkah.
Perbandingan antara hari-hari dahulu dan hari-hari sekarang ini masih dapat diperluas dan dijelaskan, tetapi dalam satu kata, saya sebagai pelayan rakyat Iran yang tercinta menyatakan bahwa hari-hari dahulu yang didambakan musuh kita untuk kembali kepadanya telah berlalu dan tidak akan pernah terulang lagi. Dan tentu saja, dengan rasa sakit dan duka, saya harus mengingatkan bahwa pada hari-hari ini tempat Khomeini Agung dan Khamenei yang agung lagi syahid (semoga Allah meninggikan kedudukan mulia keduanya), yang kemuliaan negeri hari ini berutang pada kepemimpinan mereka, terasa sangat kosong. Namun berkat khazanah berharga yang ditinggalkan dari amal serta kata-kata mereka yang cemerlang dan memberi petunjuk bagi para pengikut mereka, hari-hari mendatang akan jauh lebih gemilang daripada hari-hari ini. Sebab burung phoenix yang bangkit dari tumpukan api perang paksaan pertama itu, kini akibat tekanan-tekanan musuh dan khususnya dua perang paksaan terakhir, telah menjadi begitu besar sehingga bayangan terbangnya pun jatuh di atas wilayah-wilayah musuh.
Dalam kesempatan ini sangatlah tepat, bertepatan dengan peringatan kedua syahidnya pahlawan Arab dan simbol agung Front Perlawanan, syahid yang mulia Sayyid Hassan Nasrallah (semoga Allah menyucikan jiwanya yang suci), untuk mengenang beliau. Seorang yang dengan tulus menginginkan kebaikan bagi bangsanya dan mazhabnya, yang khotbah-khotbahnya yang jujur dan manis serta tindakan-tindakannya yang berani memperkokoh hati rakyatnya, bahkan hati orang-orang merdeka di dunia. Seorang yang mengangkat nama Lebanon, sebuah negara kecil yang selama bertahun-tahun menjadi halaman belakang sebagian kekuatan, menuju keagungan. Seorang yang pertolongan dan kemenangan senantiasa menyertainya, dan seorang yang tanpa ragu, di sepanjang seluruh sejarah Syam hingga kini, setelah para nabi dan para washi mereka, tidak pernah muncul seorang tokoh seagung dirinya di kawasan kuno itu. Dan tentu saja kini panji kebanggaannya berada di tangan Syekh Naim Qassem (semoga Allah menjaganya), yang dengan gagah berani di barisan terdepan barisan Hizbullah yang kokoh dan berjiwa Asyura terus melanjutkan jalannya.
Hari-hari Lebanon ini, di hadapan sejarah, bahkan sejak saat ini, adalah hari-hari yang menonjol dan penuh kebanggaan bagi mereka dan seluruh mujahid perlawanan, serta hari-hari yang membawa kehinaan dan pada akhirnya mempermalukan bagi mereka yang dalam menghadapi musuh Zionis menggantungkan harapan pada janji-janji palsu para penguasa dominan dan orang-orang yang berniat buruk kepada mereka. Mereka yang, berbeda dengan Sayyid syahid perlawanan, Sayyid Hashem Safieddine, dan para mujahid perlawanan saat ini, yang sepanjang zaman akan memancarkan cahaya laksana bintang-bintang gemerlap dan menjadi penunjuk jalan bagi para pencari jalan yang terjebak dalam kebingungan, akan segera terkubur dan terlupakan pada lembaran pertama halaman-halaman sejarah, dan setiap kali di masa depan mereka disebut, mereka akan menjadi pengingat akan keburukan, ketiadaan kebijaksanaan, dan bahkan mungkin pengkhianatan.
Sebagai penutup, saya berharap dengan berlanjutnya karunia-karunia Ilahi dan doa khusus junjungan kita (semoga Allah Ta'ala menyegerakan kemunculannya yang mulia, dan jiwa kami menjadi tebusannya), bangsa Iran dan seluruh sahabat perlawanan tidak menghadapi apa pun kecuali pertolongan, kemenangan, dan kemuliaan, dan musuh-musuh mereka tidak menghadapi apa pun kecuali kekalahan dan kehinaan; بمنِّالله و کرَمه (dengan anugerah dan kemurahan Allah).
Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei
6 Mehr 1405